Mengenal Pola Hidup dan Belajar di Luar Negeri (dan Dalam Negeri)
Mengenal
Pola Hidup dan Belajar di Luar Negeri, Reonaldus dan Radyum Ikomo , M.Eng
Calon
penerima beasiswa LPDP baik dengan tujuan dalam negeri dan luar negeri, akan
lebih siap menghadapi studinya dengan mengetahui pola hidup di negara tujuan.
Hal ini menjadi salah satu faktor penujang keberhasilan studi nantinya.

Hasil
yang cukup fenomenal adalah munculnya Perhimpunan Hindia Belanda waktu
tersebut, terbitnya majalah Indonesia Merdeka, dan Manifesto Politik PI 1925.
Hasil tersebut menunjukkan bagaimana pemuda-pemuda Indonesia meskipun di luar
negeri memiliki nilai dan komitmen untuk memperjuangkan bangsanya.
PPI
hadir sebagai wadah bagi mahasiswa/pelajar dari Indonesia yang sedang belajar
dan hidup di luar negeri dengan beberapa manfaat dan values, yaitu bagaimana
berbagai tips untuk hidup dan survive di negara orang, bagaimana berinteraksi
dengan makanan negara tersebut dan Indonesia tentunya, bagaimana share mengenai
haisl riset dan cerita yang dapat menginspirasi Indonesia.

Keterlibatan
mahasiswa dan pelajar yang sedang belajar dan tinggal di luar negeri di PPI
tentu akan sangat membantu mulai dari persiapan
proses dan sampai akhir dari masa pendidikan yang dijalani.
Pada
sesi ini, Sdr Reonaldus berbagi bagaimana melakukan persiapan dan memberikan
fokus lebih dalam hal akomodasi, membuat student ID, membuat account bank,,
melaporkan kedatangan di Konsultat dan Kedubes, menjelajahi negara tujuan,
membuat “proof of age”/”keypass”, dan bergabung di PPI dimanapun berada.
Setelah
mengetahui hal yang harus diperhatikan dalam kehidupan di luar negeri, kita
juga pelru mengetahui bagaimana mengoptimalkan masa studi baik di dalam maupun
luar nenegeri. Sdr. Radyum Ikomo, M Eng mengutarakan ada beberapa hal yang
harus disiapkan dan dipertimbangkan agar masa studi menjadi optimal.
Pertama,
kecocokan antara perguruan tinggi tujuan dengan anda. Beberapa hal yang harus
disiapkan adalah kualitas kampus, karakteristik negara tersebut, jenis
pendidikan apakah research atau courseworks, bahasa pengantar, referensi kota
dan persiapan dokumen untuk mendapatkan LoA. Khusus untuk dokumen titik yang
rawan adalah persiapan CV dan statement of purposes.
Kedua,
masa pra keberangkatan. Yang harus diperhatikan adalah visa, akomodasi
pemondokan, mengenali kampus tujuan, pilihan antara menikah atau tidak sebelum
berangkat, membawa keluarga , mempersiapkan dengan kondisi terburuk, dan
melakukan kontak dengan PPI untuk mengenal medan lebih obyektif.
Ketiga,
Masa studi. Masa ini memiliki titik krusial adjustment/penyesuaian dengan
budaya akademis kampus tujuan dan sekaligus profesor yang akan menjadi
supervisor kita. Sebagai mahasiswa sekaligus peneliti, melengkapi dengan
catatan penelitian selama melakukan penelitian. Menggunakan kesempatan ketika
masa studi untuk melakukan kegiatan postif, mendatangkan penambahan pendapatan.
Ada keuntungan tersendiri yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa ketika masa
studi yaitu internship ke negara lain.
Keempat,
faktor non akademis. Faktor ini juga mempunyai kontribusi yang besar dalam masa
studi. Biaya hidup, situasi keagamaan, kondisi keluarga, kesempatan jalinan
networking, budaya dan bisnis. Hal ini bisa menjadi faktor penganggu tetapi
juga memiliki kemungkinan nilai yang tidak kecil.
Kelima,
faktor keagamaan. Tentu tidak mudah
untuk menyesuaiakan diri dengan kebiasaan negera tujuamn, terutama faktor
keagamaan. Untuk itu perlu penyesuaian dengan mengetahui dan mencari tahu
aktifitas komunitas keagamaan terdekat dan meminta ijin pihak terkait.
Keenam,
faktor keluarga. Membawa keluarga tentu memiliki manfaat tersendiri sehingga
harus diperiapkan segala sesuatu dengan baik. Hal yang harus diperhatikan
adalah elegilibility dari keluarga yang dapat diperkuat oleh rekomendasi
supervisor. Kenyamanan dan keamanan
keluarga nantinya, sekolah dan kondisi anak apabila sudah memiliki, dan kondisi
khusus dimana suami dan istri sama-sama bersekolah.
Ketujuh,
faktor networking. Tidak salah apabila kesempatan melanjutkan studi adalah
kesempatan untuk menjalin jaringan. Hal ini dapat dibangun dengan komuniitas
internasional atau indonesia (PPI). Interaksi ini dapat dipakai sebagai sarana
promosi budaya indonesia dan perencanaan bisnis di masa yang akan datang.
Kedelapan,
faktor kepulangan. Yang harus diperhatikan adalah membuat prerncanaan masa
depan di negara asal nantinya jauh hari sebelum kepulangan. Memastikan
administrasi kepulangan selesai sesuai prosedur, mempersiapkan pengiriman
barang keseharian ke negara asal, dan mengkomunikasikan kepada pihak terkait.
Sumber :
Gambar
(#Mandau, #LPDP7)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar